Adik Kandungku Yang Masih Perawan

Ini adalah kisah pengalamanku yg sengaja aku beberkan untuk pertama kalinya. Sebut saja namaku Arman, aku sendiri tinggal di Bandung. Kejadian yg aku alami ini kalau tdk salah ingat, terjadi ketika aku akan lulus SMA pada tahun 2010. Sungguh sebelumnya aku tak menyAngka bahwa aku akan meniduri adikku sendiri yg bernama Lisa.



Dia termasuk anak yg rajin dan ulet, sebab dia adalah yg memasak dan mencuci pakaian sehari-hari. Ibuku adalah seorang pedagang kelontong di pasar, sedangkan ayahku telah lama meninggal. Entah mengapa Ibu tdk berniat untuk menikah lagi. Yg ibu lakukan setiap hari adalah sejak jam 4 subuh dia sudah pergi ke pasar dan pulang menjelang magrib, aku pun sekali-sekali pergi ke pasar untuk membantu beliau, itu pun kalau terpaksa sedang tdk punya uang.



Sedangkan adikku karena seringnya tinggal di rumah maka dia kurang pergaulan hingga kuperhatikan tampaknya dia belum pernah pacaran. Oh ya, selisih umurku dengan adikku hanya terpaut 1 tahun dan saat itu dia masih duduk di kelas 2 SMA. ***** Baiklah, aku akan mulai menceritakan pengalaman seks dengan adikku ini. Kejadiannya ketika itu aku baru pulang dari rumah temanku Anto pada siang hari, ketika sampai di rumah aku mendapati adikku sedang asyik menonton serial telenovela di salah satu TV swasta. aku pun langsung membuat kopi, merokok sambil berbaring di sofa.



Saat itu serial tersebut sedang menampilkan salah satu adegan ciuman yg hanya sebentar karena langsung terpotong oleh iklan. Setelah melihat adegan tersebut aku menoleh kepada adikku yg ternyata tersipu malu karena ketahuan telah melihat adegan tadi.

“Pantesan betah nonton film gituan” ujarku.

“Ih, apaan sih” cetusnya sambil tersipu malu-malu.



Beberapa menit kemudian serial tersebut selesai jam taygnya, dan adikku langsung pergi ke WC. Kudengar dari aktifitasnya, rupanya dia sedang mencuci piring.



Karena acara di televisi tdk ada yg seru, maka aku pun mematikan TV tersebut dan setelah itu aku ke WC untuk buang air kecil. Mataku langsung tertuju pada belahan pantat adikku yg sedang berjongkok karena mencuci piring.

“Lisa, ikut dulu sebentar pingin pipis nih” sahutku tak kuat menahan.



Setelah aku selesai buang air kecil, pikiranku selalu terbayang pada bongkahan pantat adikku Lisa. Aku sendiri tadinya tak mau berbuat macam-macam karena kupikir dia adalah adikku sendiri, apalgi adikku ini orangnya lugu dan pendiam.



Tetapi dasar setan telah menggoyahkan pikiranku, maka aku berpikir bagaimana caranya agar dapat mencumbu adikku ini. Aku seringkali mencuri pandang melihat adikku yg sedang mencuci, dan entah mengapa aku tak mengerti, aku langsung saja berjalan menghampiri adikku dan memeluk tubuhnya dari belakang sambil mencium tengkuknya.



Mendapat serangan yg mendadak tersebut adikku hanya bisa menjerit terkejut dan berusaha melepaskan diri dari dekapanku. Aku sendiri lalu tersadar. Astaga, apa yg telah aku lakukan terhadap adikku. Aku malu dibuatnya, dan kulihat adikku sedang menangis sesenggukan dan lalu dia lari ke kamarnya. Melihat hal itu aku langsung mengejar ke kamarnya. Sebelum dia menutup pintu aku sudah berhasil ikut masuk dan mencoba untuk menjelaskan perihal peristiwa tadi.



“Maafkan.. Aa Lisa, Aa tadi salah”

“Terus terang, Aa nggak tahu kenapa bisa sampai begitu” Adikku hanya bisa menangis sambil telungkup di tempat tidurnya.



Aku mendekati dia dan duduk di tepi ranjang.

“Lisa, maafin Aa yah. Jangan dilaporin sama Ibu” kataku agak takut.



“Aa jahat” jawab adikku sambil menangis.

“Lisa maafin Aa. Aa berbuat demikian tadi karena Aa nggak sengaja lihat belahan pantat kamu, jadinya Aa nafsu, lagian kan Aa sudah seminggu ini putus ama Teh Dewi” kataku.



“Apa hubungannya putus ama Teh Dewi dengan meluk Lisa” jawab adikku lagi.



“Yah, Aa nggak kuat aja pingin bercumbu” “Kenapa sama Lisa” jawabnya.



Setelah itu aku tdk bisa berbicara lagi hingga keadaan di kamar adikku begitu sunyi karena kami hanya terdiam. Dan rupanya di luar mulai terdengar gemericik air hujan. Di tengah kesunyian tersebut lalu aku mencoba untuk memecah keheningan itu.



“Lisa, biarin atuh Aa meluk kamu, kan nggak akan ada yg lihat ini” Adikku tdk menjawab hanya bisa diam, mengetahui hal itu aku mencoba membalikkan tubuhnya dan kuajak bicara.



“Lisa, lagian kan Lisa pingin ciuman kayak di film tadi kan?” bujukku.



“Tapi Aa, kita kan adik kakak?” jawabnya.

“Nggak apa-apa atuh Lisa, sekalian ini mah belajar, supaya entar kalo pacaran nggak canggung” Entah mengapa setelah aku bicara begitu dia jadi terdiam.



Wah bisa nih, gumanku dalam hati hingga aku pun tak membuang kesempatan ini.



Aku mencoba untuk ikut berbaring bersamanya dan mencoba untuk meraih pinggangnya. Aku harus melakukannya dengan perlahan. Belum sempat aku berpikir, Lisa lalu berkata..



“Aa, Lisa takut”

“Takut kenapa, Say?” tanyaku.

“Ih, meuni geuleh, panggil Say segala” katanya.

“Hehehe, takut ama siapa? Ama Aa? Aa mah nggak bakalan gigit kok”, rayuku.

“Bukan takut ama Aa, tapi takut ketahuan Ibu” jawabnya.



Setelah mendengar perkataannya, aku bukannya memberi alasan melainkan bibirku langsung mendarat di bibir ranum adikku yg satu ini. Mendapat perlakuanku seperti itu, tampak kulihat adikku terkejut sekali, karena baru pertama kalinya bibir yg seksi tanpa lipstick ini dicumbu oleh seorang laki-laki yg tak lain adalah kakaknya sendiri. Adikku pun langsung mencoba untuk menggeserkan tubuhnya ke belakang.



Tetapi aku mencoba untuk menarik dan mendekapkan lebih erat ke dalam pelukanku.

“Mmhh, mmhh.., Aa udah dong” pintanya.

aku menghentikan pagutanku, dan kini kupandangi wajah adikku dan rasanya aku sangat puas meskipun aku hanya berhasil menikmati bibir adikku yg begitu merah dan tipis ini.



“Lisa, makasih yah, kamu begitu pengertian ama Aa” kataku.



“Kalau saja Lisa bukan adik Aa, udah akan Aa..” belum sempat aku habis bicara..



“Udah akan Aa apain” bisiknya sambil tersenyum.



Aku semakin geregetan saja dibuatnya melihat wajah cantik dan polos adikku ini.



“Udah akan Aa jadiin pacar atuh. Eh Lisa, Lisa mau kan jadi pacar Aa”, tanyaku lagi.



Mendengar hal demikian adikku lalu terdiam dan beberapa saat kemudian ia bicara..



“Tapi pacarannya nggak beneran kan” Katanya sedikit ragu.



“Ya nggak atuh Say, kita pacarannya kalo di rumah aja dan ini rahasia kita berdua aja, jangan sampai temen kamu tau, apalagi sama Ibu” jawabku meyakinkannya.



Setelah itu kulihat jam dinding yg ternyata sudah menunjukan jam 4 sore.



“Udah jam 4 tuh, sebentar lagi Ibu pulang. Aa mandi dulu yah”, kataku kemudian. Maka aku pun bangkit dan segera pergi meninggalkan kamar adikku.



Setelah kejadian tadi siang aku sempat tdk habis pikir, apakah benar yg aku alami tadi. Di tengah lamunanku, aku dikejutkan oleh suara Ibuku.



“Hayoo ngelamun aja, Lisa mana udah pada makan belum?” kata Ibuku.



“Ada tuh, emang bawa apaan tuh Bu?” aku melihat Ibuku membawa bungkusan.



Setelah aku lihat ternyata Ibu membeli bakso, kemudian Ibuku memangil Lisa dan kami bersama-sama menyantap Baso itu. Untungnya setelah kejadian tadi siang kami dapat bersikap wajar, seolah tdk terjadi apa-apa sehingga Ibuku tdk curiga sedikit pun.



Malamnya aku sempat termenung di kamar dan mulai merencanakan sesuatu, nanti subuh setelah Ibu pergi ke pasar aku ingin sekali mengulangi percumbuan dengan adikku sekalian ingin tidur sambil mendekap tubuh adikku yg montok. Keesokannya rupanya setan telah menguasaiku sehingga aku terbangun ketika Ibu berpamitan kepada adikku sambil menyuruhnya untuk mengunci pintu depan. Setelah itu aku mendekati adikku yg akan bergegas masuk kamar kembali.



“Ehmm, ehmm, bebas nih”, ujarku.



Adikku orangnya tdk banyak bicara. Mengetahui keberadaanku dia seolah tahu apa yg ingin aku lakukan, tetapi dia tdk bicara sepatah kata pun. Karena aku sudah tdk kuat lagi menahan nafsu, maka aku langsung melabrak adikku, memeluk tubuh adikku yg sedang membelakangiku. Kali ini dia diam saja sewaktu aku memeluk dan menciumi tengkuknya. Dinginnya udara subuh itu tak terasa lagi karena kehangatan tubuh adikku telah mengalahkan hawa dingin kamar ini. K0ntolku yg mulai ngaceng aku gesek-gesekkan tepat di bongkahan pantatnya.

“Ehmm, ehmm, bebas nih”, ujarku.



Adikku orangnya tdk banyak bicara. Mengetahui keberadaanku dia seolah tahu apa yg ingin aku lakukan, tetapi dia tdk bicara sepatah kata pun. Karena aku sudah tdk kuat lagi menahan nafsu, maka aku langsung melabrak adikku, memeluk tubuh adikku yg sedang membelakangiku. Kali ini dia diam saja sewaktu aku memeluk dan menciumi tengkuknya. Dinginnya udara subuh itu tak terasa lagi karena kehangatan tubuh adikku telah mengalahkan hawa dingin kamar ini. K0ntolku yg mulai ngaceng aku gesek-gesekkan tepat di bongkahan pantatnya.



Sebelumnya dengan pacarku aku belum pernah melakukan ini, karena Dewi pacarku lebih sering memakai celana jeans. Dengan Dewi kami hanya sebatas berciuman. Kini yg ada dalam pikiranku hanyalah satu, yaitu aku ingin sekali meraba, menikmati yg namanya heunceut (meki dalam bahasa Sunda) wanita hingga aku mulai mengarahkan jemariku untuk menyelinap di antara sisi-sisi celana dalamnya. Belum juga sempat menyelipkan jariku di antara heunceutnya, Lisa melepaskan pagutannya dan mulutnya seperti ikan mas koki yg megap-megap dan memeluk erat tubuhku kemudian menyilangkan kedua kakinya di antara pantatku sambil menekan-nekan pinggulnya dengan kuat. Ternyata Lisa telah mengalami orgasme.



“Aa.. aah, eghh, eghh” rintih Lisa yg dibarengi dengan hentakan pinggulnya.



Sesaat setelah itu Lisa menjatuhkan kepalanya di atas bahuku. Aku belai rambutnya karena aku pun sangat menyayginya, kemudian aku bopong tubuh yg telah lunglai ini ke atas tempat tidur dan kukecup keningnya.



“Gimana Sayang, enak?” bisikku.

Aku hanya bisa melihat wajah memerah adikku ini yg malu dan tersipu, selintas kulihat wajah adikku ini manisnya seperti Nafa Urbach.

“Gimana rasanya, Sayang?” tanyaku lagi.

“Aa, yg tadi itu apa yg namanya orgasme?” Eh, malah ganti bertanya adikku tersayang ini.



“Iya Sayang, gimana, enak?” jawabku sambil bertanya lagi.



“He-eh, enakk banget” jawabnya sambil tersipu.

Entah mengapa demi melihat kebahagian di wajahnya, aku kini hanya ingin memandangi wajahnya dan tdk terpikir lagi untuk melanjutkan aksiku untuk mengarungi lembah belukar yg terdapat di kemaluannya hingga sesaat kemudian karena kulihat matanya yg mulai sayu dan mengantuk akibat orgasme tadi maka aku mengajaknya untuk tidur. Kami pun terus tertidur dengan posisi saling berpelukan dan kakiku kusilangkan di antara kedua pahanya. Hangat tubuh adikku kurasakan begitu nikmat sekali. Yg ada dalam pikiranku adalah betapa nikmatnya jika aku menikah nanti, pantas saja di jaman sekarang banyak yg kimpoi entah itu sudah resmi atau belum.



Tanpa terasa aku pun sadar dan terbangun dari tidurku, dan kulihat jam di kamar adikku telah menunjukkan jam 9 lewat dan adikku belum juga bangun dari tidurnya. Wah gawat, berarti dia hari ini tdk sekolah, pikirku.



“Lisa, bangun kamu nggak sekolah?” tanyaku membangunkannya.



Lisa pun mulai terbangun dan matanya langsung tertuju pada jam dinding. Dia terkejut karena waktu telah berlalu begitu cepat, sehingga dia sadar bahwa hari ini dia tdk mungkin lagi pergi ke sekolah.



Tanpa terasa aku pun sadar dan terbangun dari tidurku, dan kulihat jam di kamar adikku telah menunjukkan jam 9 lewat dan adikku belum juga bangun dari tidurnya. Wah gawat, berarti dia hari ini tdk sekolah, pikirku.



“Lisa, bangun kamu nggak sekolah?” tanyaku membangunkannya.



Lisa pun mulai terbangun dan matanya langsung tertuju pada jam dinding. Dia terkejut karena waktu telah berlalu begitu cepat, sehingga dia sadar bahwa hari ini dia tdk mungkin lagi pergi ke sekolah.



Wah ini kesempatan emas, alasan tdk memberitahu Ibu bahwa dia nggak masuk sekolah bisa kujadikan senjata agar aku bisa mandi bersama adikku. “Eh, ada tapinya loh, Aa nggak bakalan bilang ama Ibu asal Lisa mau mandi bareng ama Aa” kataku sambil mengedipkan mata. “Nggak mau. Aa jahat, lagian udah gede kan malu masak mau mandi aja musti barengan” “Ya udah kalo nggak mau sih terserah” ancamku.



Singkat cerita karena aku paksa dan dia tdk ingin ketahuan oleh Ibu maka adikku menyetujuinya. “Tapi Aa jangan macem-macem yah” pintanya. “Emangnya kalo macem-macem gimana?” tanyaku. “Pokoknya nggak mau, mendingan biarin ketahuan Ibu, lagian juga itu kan gara-gara Aa, Lisa bilangin Aa udah ciumin Lisa” balasnya mengancam balik. Jika kupikir-pikir ternyata benar juga, bisa berabe urusannya, seorang kakak bukannya menjaga adik dari ulah nakal laki-laki lain, eh malah kakaknya sendiri yg nakal. Maka untuk melancarkan keinginanku untuk bisa mandi dengannya, aku pun menyetujuinya.



Kami berdua akhirnya bangun dari tidur dan setelah berbenah kamar, kami berdua pun pergi menuju kamar mandi. Sesampai di kamar mandi kami hanya saling diam dan kulihat adikku agak ragu untuk melepaskan pakaiannya.



“Aa balik dulu ke belakang, Lisa malu nih” pintanya.



“Apa nggak sebaiknya Aa yg bukain punya Lisa, dan Lisa bukain punya Aa” Tanpa pikir panjang aku menghampiri adikku dan aku cium bibirnya.

Agar dia tdk malu dan canggung untuk membuka pakaiannya, aku genggam tangannya dan aku tuntun untuk membuka bajuku.



Tanpa dikomando dia membuka bajuku setelah itu kutuntun lagi untuk membuka celana basket yg aku kenakan. Setelah keadaanku bugil dan hanya memakai celana dalam saja kulihat adikku tegang, sesekali dia melirik ke arah selangkanganku dimana k0ntolku sudah dalam keadaan siaga satu. Kini giliranku menanggalkan daster yg ia kenakan. Begitu aku buka, aku terbeliak dibuatnya karena ternyata tubuh adikku begitu bohai (body aduhai). Dia lalu berusaha menutupi selangkangannya. Lalu dengan sengaja kucolek payudaranya hingga adikku melotot dan menutupinya.



Kemudian aku pun balik mencolek mekinya, hehehe..



“Idihh, Aa nggak jadi ah mandinya, malu”, rajuknya.



Adikku lalu mengambil handuk dan melilitkan handuk tersebut kemudian melangkah keluar kamar mandi, tetapi karena aku tdk mau kesempatan emas ini kabur maka aku pegang tangannya dan terus aku peluk sambil kukecup bibirnya, karena ternyata adikku sangat merasa nyaman bila bibirnya aku cium. Aku lalu menarik handuknya hingga terlepas dan jatuh ke lantai, dan aku pepet tubuhnya ke arah bak air lalu gayung kuambil dan langsung kusiramkan ke tubuh kami berdua.



Merasakan tubuhnya telah basah oleh siraman air, adikku berusaha untuk melepaskan ciuman dan desakan yg aku lakukan, tapi usahanya sia-sia karena aku semakin bernafsu menyirami tubuh kami sambil k0ntolku aku tekan-tekan ke arah selangkangannya. Setelah tubuh kami benar-benar basah, aku bagai kemasukan setan. Selain menyedot bibirnya dengan ganas aku pun langsung mencoba untuk melepaskan celananya.



Setelah celana dalamnya terlepas dari sarangnya hingga ke tepi lutut, aku pun menariknya ke bawah dengan kakiku hingga benar-benar terlepas. Sadar bahwa aku akan berbuat nekat, Lisa semakin berusaha untuk melepaskan tubuhnya. Sebelum usahanya membuahkan hasil aku melepas pagutannya.

“Aa, stop please” rengeknya sambil menangis.

“Lisa, tolong Aa dong. Lisa tadi subuh kan udah ngalami orgasme, Aa belum..” pintaku.



Dan tanpa menunggu waktu lagi di saat tenaganya melemah, aku kangkangkan pahanya sambil kukecup bibirnya kembali sehingga dia tdk bisa menolaknya. Di saat itu aku meraih burungku dari celana dalamku dan mencoba mencari sarang yg sudah lama ini ingin kurasakan. Dalam sekejap k0ntolku sudah berada tepat di celah pintu heunceut adikku, dan siap untuk segera menjebol keperawanannya.



Merasa telah tepat sasaran maka aku pun menghentakkan pinggulku. Dan aku seperti benar-benar merasakan sesuatu yg baru dan nikmat melanda seluruh organ tubuhku dan kudengar adikku meringis kesakitan tapi tdk berusaha untuk menjerit. Melihat hal itu aku mencoba untuk mengontrol diriku dan mencoba menenangkan perasaan yg membuatku semakin tak karuan, karena aku merasa diriku dalam keadaan kacau tetapi nikmat hingga sulit untuk diuraikan dengan kata-kata. Aku mencoba hanya membenamkan k0ntolku untuk beberapa saat, karena aku tak kuasa melihat penderitaan yg adikku rasakan.



Kini pandangan aku alihkan pada kedua payudara adikku yg masih diselimuti BH-nya. Aku mencoba untuk melepaskannya tapi mendapat kesulitan karena belum pernah sekalipun aku membukanya hingga aku hanya bisa menarik BH yg menutupi payudara adikku dengan menariknya ke atas dan tiba-tiba dua bongkah surabi daging yg kenyal menyembul setelah BH itu aku tarik. Melihat keindahan payudara adikku yg mengkal dan putingnya yg bersemu coklat kemerahan, aku pun tak kuasa untuk segera menjilat dan menyedotnya senikmat mungkin



“Aa, ahh, sakit” rintih adikku.



Seiring dengan kumainkannya kedua buah payudara adikku silih berganti maka kini aku pun mencoba untuk menggerakkan pinggulku maju mundur, walau aku juga merasakan perih karena begitu sempitnya lubang heunceut adikku ini. Badan kami kini bergumul satu sama lain dan kini adikku pun mulai menikmati apa yg aku lakukan. Itu dapat aku lihat karena kini adikku tdk lagi meringis tetapi dia hanya mengeluarkan suara mendesah.



“Eenngghh, acchh, enngg, aacchh”



“Gimana, enakk?” aku mencoba memastikan perasaan adikku.



Dia tdk menjawab bahkan kini justru tangannya meraih kepalaku dan memapahnya kembali mencium mulutnya. Karena aku tdk ingin egois maka aku pun menuruti kehendaknya.

Aku kulum bibirnya dan lidah kami pun ikut berpelukan menikmati sensasi yg tiada tara ini. Tanganku kugunakan untuk meremas payudaranya. Gila, kenikmatan ini sungguh luar biasa, kini aku pun mencoba untuk menirukan gaya-gaya di film BF yg pernah kulihat. Adikku kuminta menungging dan tangannya memegang bak mandi. Aku berbalik arah dan mencoba untuk segera memasukan kembali k0ntolku ke dalam mekinya, belum sempat niat ini terlaksana aku segera mengurungkan niatku, karena kini aku dapat melihat dengan jelas bahwa heunceut adikku merekah merah dan sangat indah dan darah yang mengalir sampai ke lutut nya.



Aku kulum bibirnya dan lidah kami pun ikut berpelukan menikmati sensasi yg tiada tara ini. Tanganku kugunakan untuk meremas payudaranya. Gila, kenikmatan ini sungguh luar biasa, kini aku pun mencoba untuk menirukan gaya-gaya di film BF yg pernah kulihat. Adikku kuminta menungging dan tangannya memegang bak mandi. Aku berbalik arah dan mencoba untuk segera memasukan kembali k0ntolku ke dalam mekinya, belum sempat niat ini terlaksana aku segera mengurungkan niatku, karena kini aku dapat melihat dengan jelas bahwa heunceut adikku merekah merah dan sangat indah.



“Aahh, Aa mau ngapain.., ochh, enngghh” desahnya sambil mengambil nafas panjang.

Mmhh, ssrruupp, cupp, ceepp, suara mulutku menyedot dan menjilati heunceut adikku ini, dan aku perhatikan ada bagian dari heunceut adikku ini yg aneh, mirip kacang mungkin ini yg namanya itil, maka aku pun mencoba untuk memainkan lidahku di sekitar benda tersebut.

“Acchh, Aa, nnggeehh, iihh, uuhh, gelii”, erangnya saat aku memainkan itilnya tersebut.

Karena mendengar erangannya yg menggoda aku pun tak kuasa menahannya dan segera bangkit untuk memeluk adikku dan memasukannya kembali dengan cepat k0ntolku agar bersemayam pada heunceut adikku ini. Baru beberapa kocokan k0ntolku di mekinya, adikku seakan blingsatan menikmati kenikmatan ini hingga dia pun meracau tak karuan lalu..



“Aa, Lisah, eenngghh, aahh..” Rupanya adikku baru saja mengalami orgasme yg hebat karena aku rasakan di dalam mekinya seperti banjir bandang karena ada semburan lava hangat yg datang secara tiba-tiba.



Kini aku merasakan kenikmatan yg lain karena cairan tersebut bagai pelumas yg mempermudah kocokanku dalam heunceutnya. Setelah itu adikku kini lunglai tak bertenaga, yg ia rasakan hanya menikmati sisa-sisa dari orgasmenya dan seperti pasrah membiarkan tubuhnya aku entot terus dari belakang. Mengetahui hal itu aku pun kini mengeraygi setiap lekuk tubuh adikku sambil terus mengentotnya, mulai dari mencium rambutnya, menggarap payudaranya sampai-sampai aku seperti merasakan ada yg lain dari tubuhku, ada perasaan seperti k0ntolku ini ingin pipis tapi tubuh ini terasa sangat-sangat nikmat.



“Aa, udah.. Aa, Lisa udah lemess..” kata adikku.

“Tunggu Sayangg, Aa maauu nyampai nih, oohh” Kurasakan seluruh tubuhku bagai tersengat listrik dan sesuatu cairan yg cukup kental aku rasakan menyembur dengan cepat mengisi rahim adikku ini.



Sambil menikmati sisa-sisa kenikmatan yg luar biasa ini aku memegang pantat adikku dan aku hentakkan pinggulku dengan keras membantu k0ntolku untuk mencapai rongga rahim adikku lebih dalam. Kami berdua kini hanya bisa bernafas seperti orang yg baru saja berlari-lari mengejar bis kota

Setelah persetubuhan yg terlarang ini kami pun akhirnya mandi, dan setelah itu karena tubuhku lemas maka aku tiduran di sofa sambil menikmati acara televisi dan adikku kulihat kembali melakukan aktifitasnya membereskan rumah meskipun tubuhnya jauh lebih lemas. dan keesokan harinya setiap adik ku pulang sekolah, selalu ku kentot setiap hari, kadang adikku yang meminta sendri.